Review THE WIFE (2018): Takdir seorang wanita lewat mata Glenn Close


 “Please don’t paint me as a victim,”

 Saat kita melihat pasangan suami istri yang telah menginjak usia lanjut berjalan bersama, saling membantu berjalan satu sama lain, dan saling tersenyum, tentu perasaan hangat dan ikut senang yang akan kita rasakan, bahkan iri. Tentu kita menginginkan hubungan yang long lasting seperti itu juga bersama pasangan kita. Namun tentu saja kenyataannya hubungan mereka tidak mungkin adem-adem saja sejak mereka bertemu hingga kalian bertemu dengan mereka. Mereka tentu pernah memiliki masalah dan berdebat mengenainya, bahkan mungkin beberapa kali mereka sempat ingin berpisah. Bjorn Runge di debut film berbahasa Inggrisnya mencoba membawa kita ke situasi yang semula nampak biasa bahkan menyenangkan, perlahan-lahan ia akan menghancurkan kebahagiaan itu sedikit demi sedikit. Lewat penampilan mengagumkan dari Glenn Close yang akan membahas keputusan hidup, Diskriminasi gender, hingga takdi dari Wanita, inilah THE WIFE.

 Film ini akan mengambil setting di dua periode dengan dua karakter yang sama. Satu bersetting di tahun 1992, dengan Joe dan Joan melakukan perjalanan ke Stockholm untuk menerima penghargaan nobel di bidang literatur, dan satuanya lagi bersetting di akhir tahun 1950-an ketika Joan yang saat itu masih menjadi mahasiswa jatuh ke pelukan Joe yang merupakan salah satu Professor yang mengajarnya yang ternyata telah berumah tangga. Bagian awal dari THE WIFE bak mimpi dalam dunia nyata. Diceritakan master di bidang sastra Joe Castleman, salah satu penulis Amerika yang biasanya menganggap diri mereka sebagai dewa, dibangunkan oleh panggilan dari Akademi Swedia di pagi buta. Dia diberitahukan bahwa ia telah dianugerahi Hadiah Nobel, topi sempurna untuk karier yang produktif.



 Secara perlahan, Bjorn Runge mulai memperlihatkan beberapa retakan. Rahasia hingga cerita-cerita masa lalu mulai terungkap dan lebih tragisnya lagi kita melihat Joan sebagai korbannya tetapi dia enggan memposisikan diri sebagai korban entah itu dari Joe maupun keadan sosial pada saat itu. Belum lagi masalah datang dari Putra mereka yang juga bercita-cita menjadi seorang penulis namun masih dibayang-bayangi kehebatan dari sang ayah sehingga kemampuannya seakan tak pernah cukup. Belum lagi dari seorang Jurnalis yang beniat akan menulis biografi dari The Castleman dengan atau tanpa persetujuan mereka yang perlahan-lahan juga akan mengungkapkan "misteri" pernikahan Joe dan Joan.

 Dari sini Bjorn Runge seperti benar-benar tau bagaimana membuat kekacauan yang hening nan indah. Naskah dari yang diangkat dari Novel karangan Meg Wolitzer yang kemudian digubah oleh Jane Anderson benar-benar terasa lezat. Hal ini juga didukung dengan durasinya yang pas dan tak terlalu menyiksa hingga tak pernah sampai ke titik membosankan.


 Sutradara Bjorn Runge membedah pernikahan Joe dan Joan tanpa ampun, menjelaskan masalah dan kompromi tak terucapkan mengenai pernikahan yang telah berusia panjang hingga menumpuk. Berbeda dengan 45 YEARS yang sama brutalnya, THE WIFE memberi kita pembebasan katarsis dalam bentuk kemarahan yang dilepaskan.

 Joan dibuatnya adalah seorang istri tradisional - dia mengingatkan Joe untuk meminun pil-pilnya, membawa kacamata baca, mengelola jadwalnya, tersenyum dengan lembut pada para pembantunya yang diabaikan suaminya - tetapi ada sesuatu yang sedikit tidak jelas dalam ekspresinya; sesuatu antara sekap hati-hati dan amarah. Kita tau bahwa Joan pernah ingin menjadi seorang penulis - dia, dulu, adalah murid Joe yang sangat menjanjikan - tetapi mimpinya menghilang, seperti senyum itu setelah diperingati seorang penulis wanita bahwa wanita tidaka akan mendapat perhatian para editor yang saat itu semuanya merupakan Pria yang hanya tertarik pada penulis Pria dan kalau pun karyanya dipublikasikan jangan harap akan ada yang membelinya.


 Tentu saja Glenn Close adalah bintangnya, ia benar-benar menunjukkan kelasnya di film ini. Ia memainkan sedetail mungkin ekspresi wajah hingga gestur. Penampilannya begitu halus dan bernuansa dan bahkan sedikit memancarkan kemisteriusan yang manis sebagai Joan, seorang wanita yang diluar terlihat tenang tapi sesungguhnya menyimpan emosi yang dalam dan tertahan. Benar-benar penampilan yang gemilang. THE WIFE memberi Glenn Close sebuah panggung yang berbeda, sesuatu yang menuntutnya untuk menekan segala emosi hingga titik nadir. Benar-benar akting yang mempesona, seseorang dengan pengalaman yang masih sedikit tidak akan mampu menanganinya. Sedangkan Jonathan Pryce menemukan tandingan yang sepadan disini dan seperti Glenn Close ia tidak pernah terlihat meremehkan peran Joe sembari menyampaikan rasa berhak yang mendominasi dan kesombongan yang pasti akan memikat hati, terutama di kalangan wanita yang tahu tipe seperti itu. Pujian juga layak diberikan pada Anne Starke yang memerankan Joan muda yang sebenarnya ternyata adalah anak dari Glenn Close sendiri. Tidak hanya wajah yang mirip kemampuan aktingnya pun berkontribusi sangat postif terhadap perkembangan filmnya. Joan muda dibuatnya terlihat memiliki sisi misterius namun begitu atraktif. Benar-benar pilihan yang cerdik.


 Overall THE WIFE adalah film yang sangat memuaskan hampir dari segala aspek. Saat pencopotan patriarki berlalu, THE WIFE adalah salah satu film yang paling elegan, dengan naskah yang indah dan begitu memikat atensi dari awal hingga akhir. Glenn Close merupakan kekuatan utama film ini, penampilannya mungkin yang terbaik di musim ini. Namun anssamble Cast, editing yang bagus, naskah yang indah, hingga sinematografi yang juga indah juga ikut berkontribusi positif pada film ini. Di debut film berbahasa inggris pertamanya Bjorn Runge masih membuktikan ketajamannya dan yang satu ini tak akan terlupakab begitu saja.

Comments

Recent post