Review BOY ERASED (2018): Penyampaian yang lemah dari Joel Edgerton


Orang-orang LGBT atau yang berkelainan seksual selalu dengan tegas mengatakan bahwa perasaan menyimpang itu sudah mereka miliki sejak mereka terlahir. Seolah Tuhan sudah menakdirkannya demikian dan itu merupakan sesuatu yang tak dapat dirubah. Sedangkan bagi penantangnya perasaan seksual menyimpang pada sesama jenis merupakan kelainan atau bahkan penyakit psikologis. Dan bisa 'disembuhkan'. Joel Edgerton di penyutradaraan keduanya akan mengangkat hal demikian. Mempertanyakan Takdir, Agama, dan moralitas; BOY ERASED.

 Film ini berdasarkan pada memoar dari Gerard Conley yang entah kenapa berakhir dengan nama Jared dalam film ini sedangkan diakhir film tetap memberitahukan kita kehidupan Jared aka Gerard yang menjadi aktivis Gay dan hidup bahagia karena telah diterima oleh keluarga maupun lingkungannya. I mean, kenapa nama karakter dalam film ini tidak Gerard saja? Anyway, film dimulai dengan Jared seorang remaja pria, anak seorang pastur dan istrinya yang modis sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah tempat dimana mereka percaya bahwa Jared dapat dikembalikan ke "jalan yang lurus". Lewat bantuan dari Victor Sykes Jared akan diingatkan bahwa dia adalah seorang yang rusak dan pendosa sejati karena menjadi seorang yang berkelainan seksual. Disana tentunya dia tidak sendirian. Disamping ditemani ibunya yang menginap di hotel sementara Jared menjalani Terapi disana ada juga teman-teman senasib dengan kasus yang berbeda-beda tapi tetap mempunyai akar permasalahan yang sama; mereka adalah penyuka sesama jenis.


 Film akan menghabiskan waktu kita dengan Jared menjalani terapi yang lebih mirip konseling disertai flashback-flashback yang cukup berurutan dari mulai Jared kecil hingga berakhir di titik itu. Khususnya mengenai hubungannya dengan Ibunya yang penyayang atau ayahnya yang selalu dibayangi akan memiliki anak yang menyimpang. Lalu ada beberapa hal mengenai masa kuliahnya yang bisa dibilang menjadikannya berada di titik itu. Semua itu membuat pembangunan karakter utama pada film ini begitu tertata. Joel Edgerton pandai dalam hal ini. Ia bisa membuat intro yang menarik proses dan konflik yang meskipun tidak sempurna tapi cukup efektif dan diakhiri dengan klimaks yang menyentuh hati meskipun tidak mencapai titik konklusif.

Untuk film yang seharusnya menjadi mimpi buruk bagi para LGBT film ini nampak terlalu lembut dalam penyampaiannya maupun scene-scene yang ditampilkan. Disini Lembaga terapi bagi para penyuka sesama jenis tak ubahnya seperti pusat rehabilitasi atau konseling dengan segala kenyamanannya. Tak pernah nampak intimidatif maupun fanatif. Lain nampaknya dengan lembaga-lembaga seperti itu yang saya tau dari buku maupun film dokumenter. Menjadikannya materi utama pada film ini pun tak membuatnya menjadi kuat dikarenakan efek serta konflik yang dihasilkan sangat kecil sekali dikarenakan hal-hal diatas. Seharusnya film menjadikan lembaga ini seintimidatif dan seantagonis mungkin guna memberikan damage yang bahkan mempengaruhi psikologis karakter utama. Kita memang melihat salah satu peserta bahkan sampai bunuh diri, tetapi dikarenakan kita tidak berfikiran kalau lembaga ini tidak seburuk itu kejadian itu seolah jadi tanda tanya. 


Film juga tidak pernah kokoh dalam menyampaikan pesannya. Apakah film ini hanya sebagai pengingat toleransi atau hanya pemberi informasi saja bahwa ada lembaga seperti itu diluar sana. Padahal scene indah Jared bersama Xavier memunculkan statement yang begitu kuat. Statement-statement seperti itu seharusnya lebih sering muncul karena memang tentang itulah film ini. Antara Tuhan dan Dosa. Bisakah agama memberlakukan suatu hal itu dosa padahal hal itu tidak dapat dikendalikan maupun ditentukan. Sayangngya statement seperti itu hanya muncul sekali saja. Diakhir film pun Jared tidak pernah mempertanyakan lagi 'takdir'nya itu.

Dari segi cast film ini bisa dibilang cukup bertabur bintang. Ada Russel Crow yang meskipun penampilannya singkat hanya diawal dan diakhir tapi cukup memberikan konklusi bagi karakter utama. Sutradara muda berbakat Xavier Dolan juga ikut meramaikan film ini, berperan sebagai seorang yang sudah sangat terpengaruh hingga menjadikannya terlihat freak Dolan mampu mengusik nurani tokoh utama. Sementara meskipun berpotensi menarik penyanyi Troye Sivan sayangnya hanya tampil begitu singkat. Dan sayangnya saya cukup punya banyak note untuk Joel Edgerton. Saya paling suka Nicole Kidman disini. Meskipun karakternya adalah seorang yang religius tapi dia tak ragu mengambil langkah berani demi kecintaannya pada sang putra dan Kidman mendeliver itu semua dengan sangat menarik. Tapi tentu saja Lucas Hedges yang paling bersinar disini. Meskipun karakternya tidak semenarik karakternya di MANCHESTER BY THE SEA tapi kita dapat melihat dari penampilannya di film ini bahwa aktor muda ini kini telah matang dari segi akting maupun penyampaiannya. Ia tidak terburu-buru dalam memancing atensi, konsisten membuat ritme, tapi kemudian ia tak ragu meluapkan emosi di bagian akhir film, menjadikannya klimaks. Yup, experience is the best teacher.


Overall, BOY ERASED adalah drama edukatif yang nanggung. Film ini terlihat terlalu bermain aman disaat dramatisasi cerita seharusnya menjadi daya tarik utama. Memiliki aktor-aktor papan atas disertai materi dan ide cerita menarik eksekusi Joel Edgerton tak dapat dipungkiri masih kurang matang, menjadikan film ini lemah dalam hal penyampaian pesan maupun edukasi yang diniatkan. Untungnya penampilan semakin dewasa dari Lucas Hedges membuat film ini masih berharga untuk ditonton.

Comments

Recent post