Road To Cannes: REVIEW Indonesia - THE CLASS (2008), Gambaran masyarakat dari murid berbagai ras



Road to Cannes 2018! Tidak seperti Oscar yang lebih condong ke acara penghargaan sineas film Amerika, Cannes film festival ini ibarat pameran dan penghargaan bagi seluruh sineas dunia, maka tak heran pemenangnyartn bisa dari bebagai negara, tidak hanya dari perancis tempat diselenggarakannya acara ini. Berhubung saya tidak akan bisa ke Cannes untuk menonton kemudian mereview film-film yang diputar disana, maka saya sekarang akan membahas film-film yang pernah memenangkan penghargaan tertinggi atau biasa disebut Palm D'Or. Ya sekedar untuk menghibur diri hingga film-filmnya merilis bluray-nya. Road to Cannes kali ini saya akan memulainya dengan film Perancis yang disutradarai , film dari Perancis berjudul THE CLASS aka ENTRE LES MURS.

Sebenarnya film ini hanya seperti memperlihatkan kegiatan di sebuah sekolah yang murid-muridnya merupakan anak-anak imigran dan pengungsi dari berbagai negara, jadi tidak ada plot tiga babak atau alur yang biasa kita temui di film-film pada umumnya. Tokoh utama pada film ini adalah seorang guru muda pengajar bahasa Perancis dan literatur bernama François. Di awal film ia akan memulai tahun ajaran baru dengan harapan akan disukai oleh murid lama maupun yang baru. Tetapi hal yang cukup mengejutkan terjadi, selain murid-muridnya yang sekarang mulai dewasa, pemikiran merekapun ikut menjadi dewasa. Bahkan Beberapa ada yang mempertanyakan sebuah sistem pendidikan hingga ada juga yang mulai membangkang.



Tema cerita seorang guru yang mengajar anak-anak bermasalah kemudian diakhir cerita mereka menjadi dekat dan si guru menjadi hero bagi murid-muridnya merupakan cerita yang sudah sangat klise. Tetapi film ini akan jauh berbeda. Kalian akan menemukan nuansa semi auto-biografical, dokumenter hingga acara reality show tetapi dengan tema dan konten yang lebih berani. Aura kebebasan benar-benar terpancar dari jiwa anak-anak ini. Untuk ukuran anak-anak pra remaja mereka benar-benar pandai bahkan yang yang paling bermasalah sekalipun. Mereka tidak segan-segan menyela gurunya jika dia melakukan kesalahan. Sepanjang film kita akan dipertontonkan dengan adu argumen dan debat-debat dari mulai yang ringan hingga berujung perkelahian. Menonton film ini seakan sistem pendidikan di negara kita benar-benar tidak ada taji-nya. Contohnya Alih-alih menghukum muridnya yang kurang ajar atau melakukan kesalahan, para pekerja pendidikan di film ini lebih mengedepankan terapi konseling dan masih banyak hal lainnya. Pembahasan film ini benar-benar diluar dugaan, THE CLASS membahas politik, etnik, budaya hingga tentu saja pendidikan.

Naskah merupakan kekuatan utama film ini. Sepanjang film statement-statement yang dilontarkan para karakter terus memancing tensi. Chalenging dan thrilling secara bersamaan. Sekalipun berkisah mengenai sekolah tetapi naskah membuat film ini memancarkan aura ketegangan tersendiri. Dan benar saja, saat ketegangan itu mencapai puncaknya kita akan terpuaskan seketika.



Naskah yang luar biasa itu berhasil dieksekusi dengan baik oleh para aktornya. Aktor-aktor muda di film ini benar-benar calon aktor besar. Mereka memainkan karakter mereka dengan sangat baik. Murid-murid disini seolah sudah mengerti jika tujuan dari "sekolah" hanyalah agar mereka siap menjadi "model" dan bagian dari masyarakat yang patuh, dan mereka tidak menerima itu. Menonton THE CLASS kita seperti disuguhkan pada kehidupan masyarakat yang sesungguhnya dan karakter-karakter ini seolah merepresentasikan masing-masing individu masyarakat saat ini. Dan mereka sungguh total memainkannya. Kita akan merasa kesal saat mereka tidak bisa diatur, kita akan tertawa saat mereka mengeluarkan celotehan khas karakter remaja, tetapi saat mereka menampilkan sisi sensitif mereka kita akan dengan sangat mudah tergugah. Dan François Bégaudeau yang memainkan versi dirinya yang diadaptasi dari bukunya juga bermain dengan sangat apik. Sangat mengejutkan karena hampir seluruh aktor di film ini merupakan aktor non-profesional begitupun aktor utamanya.



Judul asli dari film ini adalah "entre les murs" yang berarti dibalik dinding. Seperti terkesan akan menceritakan mengenai penjara atau semacamnya. Which is memang repertulah yang exactly dirasakan oleh beberapa murid disini, mereka merasa terkekang dan jauh dari kebebasan hingga mereka memberontak pada guru maupun sistem yang ada. Para gurupun bukannya tidak merasa demikian, beberapa dari mereka bahkan secara terang-terangan, jika mereka punya pekerjaan lain mereka tidak akan sudi mengajar disana. Kebebasan, menjadi tema utama film ini.



Lauren Cantet disini benar-benar membuktikan bahwa dia merupakan sutradara eropa yang ahlinya mengolah cerita bertema sosial semacam ini. Lewat gambaran murid-murid kita secara tidak langsung diperlihatkan dengan society masyarakat saat ini. Saat kebebasan berpendapat terus digaungkan secara tidak langsung kita juga harus menerima konsekuensinya. Naskah terus berdiri kokoh dari awal hingga akhir ditopang kuat oleh aktor-aktor muda amatir yang diluar dugaan benar-benar bisa mereprsentasikan emosi dan jiwa kebebasan yang luar biasa. Lauren Cantet, THE CLASS, captivating.

Comments

Recent post