REVIEW Indonesia - LEAN ON PETE (2018): Lebih dari sekedar kisah seorang anak dan seeokor kuda



2011 silam sutradara dan penulis Andrew Haigh membuat film tentang hubungan antara dua pria yang terlibat cinta satu malam namun perlahan hubungan mereka semakin dalam. film yang penuh dialog provokatif dan sarcasme berjudul WEEKEND. Kemudian 2015 silam ia menempatkan Charlotte Rampling dalam kegalauan di usia pernikahannya yang hampir setengah abad berjudul 45 YEARS. Meskipun memiliki tema dan cerita yang jauh berbeda, namun ada satu kesamaan diantara keduanya yang membuat ciri tersendiri di filmnya Andrew Heigh yaitu sarkastik, tingkat realitas cerita yang tinggi, dan karakter yang bisa kita temui sehari-hari yang mungkin tidak akan kita pedulikan sampai Haigh memasukannya dalam kisahnya. Di film panjang keempat dan debut film Amerikanya ini secara kasat mata ia masih melakukan metode yang sama. LEAN ON PETE, saat ketajaman masih keunggulan dari sutradara asal Inggris ini. 

 Di awal kita akan diperkenalkan pada sosok anak lovable bernama Charley, yang tinggal berdua bersama ayahnya. Saat ia melakukan rutinitas joggingnya ia menemukan sebuah tempat pacuan kuda, disanalah ia bertemu Del, pria paruh baya yang memiliki beberapa kuda pacuan, dan disana ia juga bertemu dengan kuda yang menawan namun terancam akan segera dijagal, Lean on pete. Kemudian Del menawarkan Charley pekerjaan untuk membantunya mengurus ini itu, ia pun diajari berbagai hal oleh Del dan seorang Joki wanita bernama Bonnie.




 Saya tidak asal saat saya bilang Andrew Haigh merupakan sutradara yang memiliki ketajaman. Jika kalian pikir ini akan menjadi kisah mengenai seorang anak dan seekor kuda belaka, buang jauh-jauh pikiran itu karena akan ada banyak sekali yang terjadi pada film ini. Film ini mungkin akan sangat mengganggu di awal karena kepelanan temponya. Secara keseluruhan memang tempo film ini pelan tapi Saat film mulai bergerak ke bagian emosionalnya kita tidak akan pernah rela berpaling dari kisah Charley dan Pete dalam mencari tempat yang mungkin mereka akan sebut rumah. Saya tidak melakukan spoiler saat saya menyebutkan jika film ini akan menjadi semacam Road movie.



 Keputusan menempatkan Charlie Plummer di tengah semua scene benar-benar beresiko. Tapi untungnya keputusan Andrew Haigh percaya sepenuhnya pada Charlie Plummer berbuah manis. Sejak kemunculannya di THE DINNER dan ALL THE MONEY IN THE WORLDnya Ridley scott tahun lalu ini merupakan penampilan terbaiknya, dan mungkin best Performance of the year so far. Kemudian ada Steve Buscemi yang memainkan karakter yang menyebalkan, sinis, namun baik bernama Del, ia mengajarkan Charley realita meskipun kadang realita itu pahit. Ia merupakan pilar yang kokoh dalam film ini begitupun penyokong yang baik bagi Charlie Plummer. Lalu Chloë Sevigny yang memerankan karakter seorang joki wanita yang sudah seperti kakak perempuan yang tidak pernah dimiliki Charley juga bermain bagus. Meskipun singkat kebersamaan mereka bertiga nampak hangat dan untuk sesaat kita dapat melihat kebahagiaan diwajah Charley. Dan tentu saja Travis Fimmel dan Steve Zahn juga tidak bisa dilupakan begitu saja.



 Seperti anak pra-remaja lainnya Charley merupakan pribadi yang naif. Keadaan keluarga dan ekonomi memang membuatnya terlihat lebih dewasa dari seharusnya, namun tidak dapat dipungkiri kenaifan dan keegoisan yang diperlihatkan Charley merupakan khas sikap anak-anak pada umumnya dan di film ini kita akan diperlihatkan sebuah transisi yang luar biasa. Kita melihat seorang anak yang sedang ditempa tragedi dan akibat yang ditimbulkan dari mengikuti kata hatinya guna menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi. 

 Disini naskah benar-benar memperlihatkan tajinya. Naskah film yang merupakan adaptasi dari novel yang berjudul sama karya Willy Vlautin berhasil dieksekusi dengan baik oleh Andrew Haigh. Monolog-monolog Charley saat berdua melakukan perjalanan bersama Pete benar-benar memilukan. Tapi alih-alih membuat karakternya Suffering naskah justru membuat karakter utama kita nampak struggling, yang mana itu membuat karakter utama kita terlihat makin bersinar terang lagi. Beberapa statement yang dilontarkan Del atau bahkan Bonnie juga nampak Captivating. Hanya saja sepertinya film ini bingung dalam mengolah beberapa scene, harusnya beberapa scene dapat dipersingkat lagi atau bahkan dihilangkan saja. Kemudian kadangkala di beberapa hal seringkali kita akan dibuat bingung dengan kejadian yang terjadi namun di beberapa hal lainnya nampak terlalu dieksploitasi. Dan tempo lambatnya juga pasti tidak akan disukai sebagian orang.



 Hanya satu yang disayangkan yaitu mengingat penampilan gemilang dari Charlie Plummer dan screenplay adaptasi apik dari Andrew Haigh, film ini rilis terlalu awal, hingga saya tidak yakin film ini akan masuk bursa Oscar atau ajang lainnya tahun depan.

 Andrew Haigh sepertinya semakin menunjukkan kredibilitasnya sebagai sutradara yang menyuguhkan realita yang tajam, intens, namun tak pernah terkesan melodramatik sekalipun referensinya benar-benar mendukung hal itu. Film ini mungkin akan menyebalkan diawal, namun jika kalian mau bersabar sebentar dan berusaha terkoneksi dengan ceritanya kalian tidak akan pernah menyesal. Kekurangan di pengelohan plot dan tempo yang lambat akan seketika dilupakan mengingat penampilan para Castnya dan tentu saja Charlie Plummer yang sepertinya akan menjadi calon bintang baru kita.

Comments

  1. Buruan Gabung Bersama Kami Di Winning303 Hanya Dengan 1 Akun Kalian Dapat Bermain Berbagai Macam Permainan Online !!

    Informasi Lebih Lanjut, Silakan Hubungi Kami Di :
    Melayani LiveChat 7 x 24 Jam Nonstop :
    - WA : +6281717177303
    - BBM : WINNING303
    - LINE : WINNING303

    ReplyDelete

Post a Comment

Recent post